Dulu, waktu jamannya belum ada puluhan tivi swasta seperti sekarang, saya nggak pernah lepas nonton acaranya yang namanya A.C.I, kepanjangan Aku Cinta Indonesia. Sampai hafal jinglenya, hafal jam tayangnya! Gila! Padahal, kalo dilihat sekarang, tampilannya bener-bener katro (istilahnya si Tukul). Acaranya sederhana, menampilkan film-film Indonesia dan program tivi ke Indonesiaan. Tapi, sadarkah kita, tahun semakin bertambah, modernisasi makin berkibar, nggak ada lagi acara-acara di tivi yang sangat Nasionalis seperti A.C.I? Ini contoh konkrit bergesernya kebudayaan kita, bahkan mulai tergerus dengan budaya-budaya barat a.k.a America minded. Lihat saja di bioskop-bioskop 21 yang memiliki ratusan cabang, jarang sekali di semua studionya memajang film-film Indonesia. Langka sekali. Hai, kemanakah film Indonesia yang kita cintai? Apa kita mulai kehilangan budaya kita sendiri? Apakah film kita mulai kehilangan ide dan mutu? Nggak mungkiiinnnn!!!
Makanya, ketika ada acara-acara tivi yang berbau Nasionalis, sangat membudaya, tradisonalis, sepertinya hasrat saya untuk menyaksikan sangatlah tinggi. Kangen, itulah yang ada dalam benak saya. Kangen dengan acara-acara tivi yang mendidik. Kangen dengan tayangan yang tradisional. Kangen dengan masyarakat kita yang harusnya lebih menghargai ‘produk-produk Indonesia’ (diucapkan seperti iklan tivi). Semua itu seolah menjadi antipati, yang notabene, kita berada di negeri kita sendiri, Indonesia.
Kemarin, saya sempat nonton acara di salah satu tivi berita, yang menayangkan acara era 80-an. Ketika itu tema acara yang diusung adalah Pelawak jaman 80-an. Bener-bener sedikit terobati, ketika melihat lawakan ala De Bodors, Pelita Hati, Tom Tam, apalagi ketika dokumentasi mereka disetel lagi, dan disebelah kanan monitor terdapat logo TVRI. Saya langsung ngebatin, ternyata, lawakan-lawakan jaman dahulu itu lebih cerdas, inovatif, dan satu lagi Nasionalis. Lihat saja contohnya, Pelawak Pelita Hati anggotanya terdiri dari suku-suku bangsa yaitu, Jawa, Padang, Medan, dan Tegal. Bandingkan dengan pelawak-pelawak jaman sekarang, yang lebih suka menggunakan fisik dan celaan ketika melawak. Dan, ironisnya, itulah yang disukai oleh masyarakat sekarang. Mereka lebih suka ngomong sok ke Inggris-Inggrisan, daripada ngomong dengan bahasanya sendiri. Kurang eksotis apa bahasa-bahasa di suku Indonesia. Lihat saja bahasa Tegal, baru keucap satu kalimat saja, sudah terdengar lucu, apalagi, kalo mereka memang bener-bener ngelawak. Sebelum masuk ke abad 20, sepertinya budaya kita masih ketimuran, tapi lihat sekarang? Yang katanya milenium, yang katanya globalisasi, lha kok, malah membuat budaya kita terenggut?!
Jaman benar-benar telah bergeser dan mulai kehabisan akal. Itu baru salah satu contohnya, dan banyak lagi contoh kebudayaan Indonesia, yang mulai terlepas dari akarnya. Bangsa Indonesia itu penuh dengan ke eksotisan. Dari pulaunya, orangnya, kebudayaannya, kulitnya, bahasanya, dan lain-lainnya. Jadi, kenapa saya bilang, pertahankanlah budaya kita. Budaya kita sangat luas, dan sangat dalam untuk dieksplor. Masa kita diam aja ketika batik diakui oleh Malaysia. Apa kita harus membisu, ketika Reog juga diakui mereka? Huh, seharusnya hal itu jangan sampai terjadi! Budaya adalah warisan setiap negeri, dari nenek moyang kita. Bagaimana marahnya nenek moyang kita bila tahu, budaya kita diakui oleh bangsa lain, dan apalagi, kita tidak memiliki ketahanan dalam mengakui budaya kita. Kesenian Indonesia itu wajib dilestarikan, bukan malah ditelantarkan. Sudah seharusnya kita mendaftarkan semua situs-situs budaya milik sendiri, agar tidak diakui oleh negara lain. Berikan budaya kita hak cipta, agar tidak diakui bangsa lain, agar kita bangga dengan apaa yang menjadi milik kita!
Bangsa kita udah terlalu lama dijajah, bahkan sampai sekarang. Saya pernah ingat dulu Pemerintah pernah mengeluarkan Undang-Undang Periklanan, kalo Sutradara luar (barat, red), tidak boleh menyutradarai iklan disini. Bahkan, iklan kita, nggak boleh produksi diluar negeri. Saya sangat menghargai dan salut dengan Undang-Undang itu, walaupun kenyataannya masih belum terealisasi. Sumber Daya Manusia (SDM) luar masih dianggaap ‘dewa’ di negeri kita. Kemampuannya, pemikirannya, dianggap jauh melesat dibanding dengan SDM kita. Padahal, itu nggak benar! Orang-orang Indonesia tuh jauh lebih pintar, cerdik, cekatan, bahkan lebih manusiawi dibanding orang-orang bule itu. Orang-orang kita masih punya sifat segan, nggak seperti orang-orang bule. Makanya kenapa saya setuju banget sama Capres Jusuf Kallaa waktu bilang salah satu programnya akan meningkatkan SDM dalam negeri, dan meminimalis SDM luar negeri. JK malah mengungkapkan kalo Bandara-bandara di sejumlah kota dirancang dan dibuat dari kerja keras orang-orang kita! Terbukti kan? Tapi, kenapa, kemarin ketika saya menyaksikan film Merantau, ternyata Sutradaranya orang bule? Saya memang kagum dengan film Merantau. Tapi, sejauh mana saya kagum? Saya kagum hanya dengan scene-scene actionnya saja! Cerita? Nggak Indonesia banget! Cerita bersetting Sumatera Barat itu, sama sekali nggak ter-eksplor? Karena apa? Karena yang buat bukan orang Indonesia! Orang bule sih mentingin bag bug sama ciat ciatnya doang (istilah actionnya), nggak pernah mentingan background cerita. Padahal, kekuatan film itu ada di cerita! sayang, sungguh sayang…
Makanya, saya sebagai masyarakat Indonesia, sekali lagi ingin menyerukan kepada kita sesama masyarakat Indonesia, hayolah, cintai produk-produk Indonesia. Cintailah negerimu ini yang nggak ada duanya. Negeri kita ini kurang indah apa, kurang unik apa. Sampai pulau Komodo jadi salah satu finalis Seven New Wonders (dan moga-moga kepilih). Kurang eksotis apa Pulau Bali, samape sering disebut-sebut di dialog film-film Hollywood? Kurang eksentrik apa tarian Saman? Tanpa ada musik jreng-jreng, hanya mengkombinasikan gerak dan kecepatan, itu benar-benar tarian yang sempurna! Nggak ada deh bangsa lain yang bisa disandingkan dengan Indonesia, kalo masalah budaya dan kesenian. Bahasanya, kita punya puluhan bahasa (nominalnya saya nggak tahu ya…). Kenapa kita harus bangga berbahasa Inggris, Amerika? Pake bahasa sendiri dong. Cinta Laura boleh ke barat-baratan, dan agak lebay (melebihkan, red), ya karena dia emang dari oroknya udah begitu, sekolahnya aja temennya orang bule. Nggak perlu kita ikut-ikutan! Bahasa Inggris itu kepake kalo cuma interview doang (itu buat saya lho ya?).
Intinya, sekali lagi, cintailah produk-produk Indonesia (tetap dengan gaya iklan). Dan, semoga, kita akan terus mengumandangkan semangat A.C.I, semangat AKU CINTA INDONESIA….Hidup Indonesia! Berkibarlah Merah Putihku!!